ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE
Kemendes

Akhirnya Indonesia Resmi Larang Operasional Boeing 737 Max

Kamis , 14 Maret 2019 | 23:34
Akhirnya Indonesia Resmi Larang Operasional Boeing 737 Max
Foto: Jaen Zevallos, pixabay.com

ARAHDESTINASI.COM: Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mempertegas larangan terbang bagi seluruh pesawat terbang B737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak 14 Maret 2019.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti dalam keterangannya di Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menegaskan bahwa larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan ada pemberitahuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan.

Langkah tersebut ditempuh dengan memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC) yang diterbitkan oleh FAA pada 13 Maret 2019 perihal Updated information regarding FAA continued operations safety activity related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 MAX) fleet dari Federal Aviation Administration.

“Demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia, kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak 14 Maret 2019”, katanya, dikutip Antara.

Larangan beroperasi ini dikecualikan bagi penerbangan B737-8 MAX yang bertujuan non-komersial, tidak membawa penumpang, dan penerbangan ferry dalam rangka kembali ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat terbang. Keselamatan penerbangan menjadi hal terpenting dalam pelayanan penerbangan. “Bagi kami, keselamatan merupakan ‘no go item’ yang tidak dapat ditawar,” katanya.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mempertegas larangan terbang bagi seluruh pesawat terbang B737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak 14 Maret 2019.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti dalam keterangannya di Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis menegaskan bahwa larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan ada pemberitahuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan.

Langkah tersebut ditempuh dengan memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC) yang diterbitkan oleh FAA pada 13 Maret 2019 perihal Updated information regarding FAA continued operations safety activity related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 MAX) fleet dari Federal Aviation Administration.

“Demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia, kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak 14 Maret 2019”, katanya.

Larangan beroperasi ini dikecualikan bagi penerbangan B737-8 MAX yang bertujuan non-komersial, tidak membawa penumpang, dan penerbangan ferry dalam rangka kembali ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat terbang. Keselamatan penerbangan menjadi hal terpenting dalam pelayanan penerbangan. “Bagi kami, keselamatan merupakan no go item yang tidak dapat ditawar,” katanya.

Pesanan Batal
Terkait pesanan Boeing 737 Max 8 yang sudah dilakukan, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Akhsara menyatakan tidak menutup kemungkinan akan membatalkan seluruh 49 unit pesawat jenis Boeing 737 Max 8 yang sudah dipesan kepada perusahaan Boeing Co.

"Kami belum melihat ke sana, tetapi kemungkinan membatalkan itu ada, seperti contoh Lion sudah ada suratnya di media untuk membatalkan pesanan," kata Ari seperti dikutip Antara.

Ia mengatakan, total pesawat Boeing 737 Max 8 yang telah dipesan Garuda ada 49 unit yang akan datang secara bertahap mulai 2021 sampai 2030. Sebelum insiden kecelakaan dua pesawat jenis sama yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines, Garuda sudah melakukan negosiasi dengan pihak Boeing untuk mengurangi jumlah pesanan menjadi hanya 20 unit pesawat.

Rencananya, Garuda akan menukar pesanan Boeing 737 Max 8 dengan pesawat Boeing 787 yang dinilai memiliki value yang sama. Jatuhnya pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines, memperkuat posisi Garuda untuk menegosiasi ulang dengan Boeing, karena hingga saat ini otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat Federal Aviation Administration (FAA) telah melakukan pembekuan (grounded) sementara terhadap pesawat Boeing 737 Max 8.

Bahkan, Ari mengatakan pihak Boeing sendiri meminta FAA untuk melakukan pembekuan sementara seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 total 510 unit yang beroperasi di berbagai negara.

"Kami akan melakukan negosiasi dengan menggunakan Boeing yang lain karena yang penting bagi Garuda, bagaimana mendapat pesawat yang 'safety' dan 'reliable' pada 2021 on board," kata Ari.

Ia menambahkan bahwa operasional Garuda tidak terganggu setelah menghentikan sementara pengoperasian satu unit pesawat Boeing 737 Max 8 menyusul Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan.

Satu unit pesawat Boeing 737 Max 8 yang dimiliki Garuda Indonesia umumnya beroperasi dengan tujuan ke Singapura. "Total pesawat seluruhnya dengan Sriwijaya, ada 251 unit. Sekarang kebetulan sedang low season, jadi tidak terlalu bermasalah untuk saat ini," katanya. (*)

 

Editor : Aurora
KOMENTAR