ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Makna Busana Pengantin Tenun Ikat Sikka

Minggu , 28 November 2021 | 10:01
Makna Busana Pengantin Tenun Ikat Sikka
Foto: istimewa
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Kain tenun ikat Sikka tampil cantik dan memesona dalam busana pengantin yang dikenakan cicit Raja Sikka, Nusa Tenggara Timur, Dona Marie Rosario Concitta da Silva dan pasangannya Quincy Igwahyudy Christian Imran.

Pengantin perempuan adalah anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Don YGS da Silva & Floriana Lolly DG da Silva yang biasa disapa Concitta yang juga adalah cucu Raja Sikka, Raja Muda Sikka-Mo'at Don Josephus Daniel Ximenes da Silva. Sementara pengantin pria adalah putra pasangan Imran Idris & Betsy Irene Paulus

“Busana pengantin modern mulai menggeser pakaian adat Sikka. Ini memicu pola pikir kami, kenapa tidak membudayakan kembali pakaian adat Sikka?” ujar Don YGS da Silva, ayah dari pengantin perempuan yang akrab disapa Roy.
Pasangan pengantin itu mengikat janji pernikahan Sabtu, 28 Agustus 2021 di Gereja Katolik St. Matius Penginjil, Bintaro, Jakarta Selatan.

Saksi pernikahan yang juga kerabat pengantin perempuan, yakni pasangan suami istri J. Phillip Gobang dan Avanti Fontana juga mengenakan busana tenun ikat Sikka bermotif Dala Mawarani.

Untuk resepsi pernikahan sendiri akan digelar pada Minggu 28 November 2021 di Arosa Hotel di Bintaro, Jakarta Selatan.
Sonya da Gama praktisi pariwisata khusus tenun ikat Sikka, mengatakan bahwa tenun ikat yang dikenakan pengantin perempuan bermotif burung merak, sedangkan busana pengantin pria jenis songket yang biasa dipakai para pria dengan sebutan Lipa Prenggi.
Sarung bermotif Merak melambangkan keagungan dan kecantikan bagi anak gadis dan Llipa Prenggi dipilih untuk membedakan busana wanita dan pria.

 

IMG-20211126-WA0016

 

“Motif merak masuk dalam motif kelang suster yang dibuat oleh para suster pada tahun 1928 di Lela, di mana motif awal adalah piala hosti dan anggur untuk kepentingan stola para imam. Untuk Lipa Prenggi, muncul di zaman kerajaan pimpinan Ratu Dona Agnes Ines da Silva,” tutur Sonya yang juga pemilik Sonya Tenun Maumere sebuah, toko cendramata di Maumere, Kabupaten Sikka
Ratu Dona khusus mendatangkan para penenun dari pesisir Goa dan Bima, sehingga warna bercorak pesisir khas busana orang Makassar dan Gowa yang menetap di Flores khususnya di Maumere ikut memengaruhi.

Menurut Roy, seharusnya tata cara berpakaian dalam sebuah prosesi pernikahan disesuaikan dengan runutan peristiwa prosesi adat nikah itu sendiri. Ada kostum dan warna tersendiri, namun saat ini menurut Roy sangat sulit diimplementasikan.

“Seperti pakaian wanita saat dilamar ada dominan warna merah yang melekat pada dong. Ini menandakan bahwa perempuan sedang mekar dan berseri serta siap untuk dipinang. Sementara warna kostum saat lepas bujang lebih mengarah ke warna kuning dan hijau untuk dongnya. Artinya dia siap dipetik dan matang. Sedangkan warna kuning atau biru laut pada pesta nikah atau di Gereja menandakan kecantikan dan ceria untuk dibanggkan bagi sang suami serta penghormatan bagi para undangan,” tutur Roy.

Semua warna dan urutan yang dikenakan tidak terlepas dari pengaruh busana orang Makassar dan Gowa yang menetap di Flores khususnya di Maumere. Dan sekarang telah menjadi bagian dari busana Sikka dengan corak kostum yang sangat bernilai tinggi.

“Perhatikan corak warna bagi kain sarung pria, pengaruh warna dari Makasar sangat kental,”ujar Roy.
Roy menceritakan dalam memilih ragan warna dan corak untuk busana pasangan pengantin sangat teliti dan semaksimal mungkin kembali ke corak-corak lama di abad lalu, meski seringkali perajin tidak mampu menenunnya.
“Paduan warna dan corak ini yang menghasilkan keunikan nuansa meriah pada saat pasangan pengantin bersanding bersama-sama,” katanya.Keindahan adat Sikka mengingatkan betapa kayanya Indonesia. Yuk bersama-sama kita ikut melestarikan. (*)

KOMENTAR