ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Selama Pandemi Industri MICE Kehilangan Rp41 Triliun

Jumat , 06 November 2020 | 17:11
Selama Pandemi Industri MICE Kehilangan Rp41 Triliun
Foto ilustrasi: pranataprinting.com

ARAHDESTINASI.COM: Sejak pandemi Covid-19, industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) kehilangan perputaran uang sekitar Rp41 triliun. Karena itu, Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Pameran dan Konvensi Indonesia (Asperapi) mengharapkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat bisa segera memberi sinyal kapan penyelenggaraan pameran dapat dilakukan kembali.

“Kami butuh perkiraan kapan kira-kira pameran boleh diselenggarakan kembali. Dengan perkiraan itu, kami bisa menyusun strategi harus bagaimana untuk bertahan,” ujar Ketua Asperapi Hosea Andreas Runkat saat berbicara secara virtual dalam Indonesia Industry Outlook 2021 hari ketiga (6/11).

Kehilangan pendapatan di indusrtri MICE menurut Hosea juga dibayangi kemungkinan hilangnya invenstasi asing sebesar Rp21 triliun.

“Sekitar 80% MICE, terutama pameran terkonsentrasi di Jakarta dan sebagian Tangerang sejak dibangun ICE BSD City. Tapi sampai sekarang belum ada pemberitahuan kapan kira-kira kami bisa melakukan aktivitas lagi. Jika terus begini, saya khawatir kita akan kehilangan investasi asing yang sudah ditanamkan di sektor ini,” katanya.

Para penyelenggara pameran menurut Hosea, pada dasarnya sudah siap bergerak dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Kami siap beradaptasi. Bisa dimulai dari luasan area pameran yang diperbolehkan, jumlah pengunjung, dan persyaratan lain. Dengan dibuka kita bisa tahu mana yang kurang mana yang harus diperbaiki. Kami dari industri juga tidak ingin ada klaster baru, karena itu jelas akan merugikan industrinya sendiri,” tegasnya.

Asperapi menurut Hosea, sampai sekarang masih mencoba melobi pemerintah daerah dalam hal ini DKI Jakarta dan pemerintah pusat. “Kalau industri lain bisa berjalan, kami pun bisa melakukan dengan penerapan protokol kesehatan ketat."

Saat ini, beberapa penyelenggara mencoba memaintaince jaringan koneksi MICE dengan menyelenggarakan event secara online. Tapi, menurut Hosea untuk pameran tertentu dia perkirakan masih lebih efektif dilakukan secara offline atau menggabungkan online dan offline.

Hosea menyadari, daya beli masyarakat saat ini menurun, namun bukan berarti tidak ada. “Yang penting kita bisa survive dan menunjukkan ke dunia luar bahwa industri MICE kita masih berjalan. Mungkin sampai Juli dalam skala kecil dan secara bertahap bisa diperbesar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat,” ujarnya.

Inventure Indonesia dalam pembahasan Indonesia Industry Outlook 2021, menyebutkan, pandemi akan melahirkan trend baru yang disebut New Nor Mice (New Normal Mice). Istilah itu merupakan bentuk adaptasi yang kedepannya mengarah pada hybrid, menggabungkan kegiatan online dan offline. (*)

KOMENTAR