ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Pengaruh Gaya Hidup & Turunnya Harga Kopi Arabica hingga 50%

Jumat , 06 November 2020 | 01:16
Pengaruh Gaya Hidup & Turunnya Harga Kopi Arabica hingga 50%
Foto: Andrew Lloyd Gordon dari Pixabay

ARAHDESTINASI.COM: Sejak pandemi Covid-19. harga kopi arabica turun drastis hingga 50%, seiring dengan merosotnya permintaan. Sementara itu harga dan permintaan kopi robusta jauh lebih stabil.

“Kondisi itu berdampak pada petani kopi arabica. Banyak pengiriman yang minta ditunda dua hingga 3 bulan. Bahkan sampai ada pembatalan kontrak. Namun, oktober ini mulai ada sedikit permintaan,” kata Moelyono Soesilo, ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia dalam acara Indonesia Industry Outlook 2021 hari kedua yang diadakan secara virtual.

Turunnya permintaan kopi arabica sejalan dengan perubahan gaya hidup dan menurunnya daya beli di masyarakat.

Di bisnis hilir, terangnya, konsumen mulai meninggalkan gerai-gerai kopi mewah, beralih ke gerai sederhana dengan ruang terbuka dan harga kopi yang lebih realistis.

“Konsumen sekarang cenderung mencari ruang terbuka, meskipun itu gerimis bubar. Cukup gerai dengan kontainer dan tempat duduk. Meski sederhana, namun standar kebersihan dan pembuatan kopinya terpenuhi. Generasi milenial cenderung memahami bagaimana kopi yang bagus,” ujar Moelyono.

Moelyono berkisah, sejak pandemi bisnis kopi di hilir memang terpukul berat. Namun, belakangan mulai menggeliat, meski dengan pergeseran trend tempat dan harga yang lebih realistis.

Dia memperkirakan, harga kopi tidak bisa lagi dibanrol tinggi. Untuk kopi hitam dia perkirakan akan ada dikisaran antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Sedangkan untuk kopi dengan susu sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu.

Menurut Moelyono, untuk kembali pulih seperti semula dibutuhkan waktu cukup lama. Dia perkirakan baru akan pulih empat hingga lima tahun mendatang. Begitu pun dengan pergeseran gaya hidup minum kopi yang terjadi. Itu sebabnya, dia mendorong para pebisnis untuk mulai menyesuaikan dengan pergeseran trend.

“Vaksin tidak akan menyelesaikan semuanya. kondisi ekonomi belum sempurna. Untuk konsumsi, konsumen akan lebih berhati-hati. Pengeluaran untuk nongkrong juga terpengaruh,” katanya.

Penurunan daya beli yang mempengaruhi bisnis kopi juga tercermin dari hasil survei yang dilakukan Inventure Indonesia dan terangkum dalam Indonesia Industry Outlook 2021.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Inventure, kopi sachet menempati urutan pertama sebagai kopi yang paling diminati konsumen selama pandemi, yaitu sebesar 48,4%. Disusul kopi kemasan sebesar 36,3% dan paling akhir adalah paket manual brew yaitu 16,7%.

"Pandemi telah mengubah drastis perilaku para penikmat kopi. Di era lesirue economy penikmat kopi lebih suka nongkrong di kedai kopi, kini di era pandemic economy mereka terpaksa beralih ngopi di rumah," ujar Yuswohady, Managing Partner Inventure. (*)

KOMENTAR