ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Garuda Sangkal Ada Penyelundupan Harley Davidson

Selasa , 03 Desember 2019 | 21:17
Garuda Sangkal Ada Penyelundupan Harley Davidson
Ilustrasi: by JL G from Pixabay

ARAHDESTINASI.COM: Garuda Indonesia mengklarifikasi sehubungan dengan adanya informasi yang beredar bahwa maskapai nasional itu telah menyelundupkan motor besar ke bandara Soekarno Hatta bersamaan dengan kedatangan pesawat baru A330-900 Neo pada 17 November 2019.

VP Corporate Secretary Ikhsan Rosan dalam siaran pers menyebutkan bahwa yang terjadi adalah ada karyawan yang membawa beberapa spare part dalam penerbangan tersebut.

Menurut Ikhsan, seluruh barang yang dibawa sudah dilaporkan kepada petugas kepabeanan (self declared) termasuk bawaan (bagasi) karyawan yang onboard dalam penerbangan tersebut.

Pemeriksaan Bea Cukai tidak mengindikasikan adanya pelanggaran kepabeanan pada bagian cockpit dan kabin penumpang, namun pada bagasi ditemukan beberapa spare part motor besar yang tidak diproduksi di Indonesia yang dibawa oleh salah satu karyawan yang onboard dalam penerbangan tersebut untuk ditindaklanjuti sesuai aturan kepabeanan yang berlaku.

Spare parts yang dibawa oleh karyawan yang onboard dalam pesawat tersebut juga telah melalui proses kepabeanan di Delivery Center Airbus di Toulouse, Prancis.

Sebelum melakukan pendaratan di bandara internasional Soekarno Hatta, Garuda Indonesia telah menyampaikan surat pemberitahuan dan permohonan izin kepada pihak otoritas bandara di mana Garuda Indonesia akan membawa pesawat tersebut langsung ke Garuda Maintenance Facility (GMF) dan akan melaksanakan segala prosedur keimigrasian dan kepabeanan di area GMF.

Ketika tiba di GMF, seluruh spare part dilaporkan kepada petugas bea cukai untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku. “Karyawan Garuda Indonesia tersebut akan tunduk dan mematuhi segala aturan yang berlaku atas putusan dari kepabeanan seperti misalnya harus membayar bea masuk atau prosedur lain yang akan dikenakan. Spare part tersebut akan dipergunakan oleh karyawan tersebut dan bukan untuk diperjual belikan,” papar Ikhsan.

Seperti layaknya peraturan kepabeanan yang berlaku di bandara-bandara internasional yang diterapkan kepada penumpang umum, hal demikian juga berlaku di GMF sebagai kawasan berikat.

Garuda Indonesia menyerahkan sepenuhnya keputusan tentang masalah ini kepada Bea Cukai, dan sesuai dengan komitmen perusahaan, maka Garuda akan mematuhi dan mengedepankan tata kelola perusahaan. “Garuda Indonesia tunduk dan patuh atas segala ketentuan, peraturan serta prosedur yang ditetapkan oleh Bea Cukai,” katanya. (*)

KOMENTAR