ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE
Kemendes

Lumbini,Tempat Kelahiran Sang Budha

Rabu , 08 Mei 2019 | 00:50
Lumbini,Tempat Kelahiran Sang Budha
Foto: IG @lintangrowe
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Pagi itu matahari Kota Lumbini, Nepal, sudah terasa garang. Seiring dengan geliat aktivitas masyarakat, debu-debu di kota yang tengah giat membangun itu beterbangan. Namun, semua itu tak menghentikan niat para peziarah dan wisatawan yang sudah jauh-jauh datang ke kota yang terletak di perbatasan Nepal-India itu.

Lumbini dikenal sebagai tempat kelahiran Sang Budha Sidharta Gautama pada abad ke-6. Di Taman Lumbini, tepatnya di Kuil Mayadevi terdapat hamparan situs dari abad ke-3. Kuil Mayadevi menjadi pusat ziarah dan kunjungan wisatawan.

IMG_8559

Namun, selain itu Taman Lumbini memiliki banyak kuil Budha dari berbagai negara, dan menjadi tempat untuk belajar agama Budha, bermeditasi, dan sebagainya. Masing-masing kuil dibangun dengan ciri khas negara masing-masing negara. Di antaranya ada kuil Budha dari Jepang, Jerman, China, Malaysia, Singapura, Thailand, Sri Lanka dan masih banyak lagi. Arsitekturnya indah dan mempesona.

Tuk tuk menjadi moda transportasi yang paling sering digunakan untuk menyambangi Taman Lumbini. Lebih praktis dan masuk akal, karena kawasan Lumbini sangat luas hingga tak akan mungkin dijelajahi dengan berjalan kaki dalam waktu seharian sekali pun. Apalagi matahari Lumbini bersinar luar biasa terik.

IMG_1462

Pengendara tuk tuk, biasanya sekaligus menempatkan diri sebagai pemandu wisata. Dia akan menjelaskan banyak hal dan mengajak mendatangi berbagai kuil.

IMG_1460

Kuil Mayadevi
Kuil Mayadevi menjadi pusat terpenting di Taman Lumbini. Area yang dipenuhi situs itu jadi destinasi utama para peziarah dan wisatawan dari berbagai negara. Di area itu, pengunjung dikenai biaya sekitar Rp26 ribu atau 200 Nepal rupee dan harus melewati metal detektor.

IMG_1465

Beberapa menit berjalan kaki dari loket, kita akan menjumpai patung Budha semasa kecil. Tak jauh dari situ, pengunjung diminta melepas alas kaki. Meski matahari begitu menyengat, namun ternyata lantai yang dipijak tak terasa panas.

Berjalan beberapa menit tampak bangunan putih Mayadevi yang menjadi situs warisan dunia UNESCO, tempat Sang Budha Sidharta Gautama lahir pada abad ke-6. Di sekitar Kuil berserak sisa bangunan dan pondasi berbahan batu bata merah, sebagian dari abad ke-3.

Tempat kelahiran Sang Budha menempati satu bangunan putih yang melindungi reruntuhan dan situs-situs dari abad ke-3. Sebagian batu-bata di ruangan itu berkilau karena mengandung emas. Di salah satu bagian ada kotak kaca tempat Sidharta Gautama lahir.

Suasana di dalam gedung sangat tenang. Para peziarah dan wisatawan berjalan memutar tanpa suara. Pengunjung tak boleh memotret.

Lepas dari Kuil Mayadevi, kita bisa menikmati taman dan kolam yang konon menjadi tempat Maya devi mandi sebelum melahirkan sang Budha.

 

IMG_1493_1

Akses
1. Lumbini tengah membangun bandara. Namun, saat ini dari Kathmandu, Ibu Kota Nepal, Lumbini bisa dijangkau dengan bus dengan lama perjalanan sekitar 7 hingga 8 jam. Untuk bus eksekutif, harganya sekitar Rp260 ribu. Namun ada juga bus biasa seharga sekitar Rp95 ribu. Selama perjalanan, bus akan sering berhenti, sekitar 3 hingga 5 kali untuk memberi kesempatan penumpang ke kamar kecil, makan, atau sekadar meluruskan kaki.

2. Dari Lumbini, Taman Lumbini bisa dijelajahi dengan tuk tuk bermotor. Untuk 2,5 jam perjalanan dihargai sekitar Rp156 ribu atau 1.200 Nepal rupee. Dua setengah jam waktu yang ideal mengelilingi Taman Lumbini, di tengah terik matahari yang menyengat.

Tips
1. Bawalah air minum untuk menghindari dehidrasi.
2. Gunakan sepatu yang mudah dilepas, karena sebagian kuil mengharuskan pengunjung melepas alas kaki.
3. Gunakan kaos kaki. Pengunjung harus melepas sepatu menyusuri area luas menuju tempat kelahiran Budha .
4. Bawa payung atau topi.
5. Bawalah masker untuk menghindari debu-debu yang luar biasa, apalagi sebagian jalan masih dalam tahap pembangunan.

Penulis: Lintang Rowe
IG: @lintangrowe

 

 

 

 

KOMENTAR