ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Pendaki Gunung Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem

Jumat , 11 Januari 2019 | 00:11
Pendaki Gunung Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem
Foto: Dok Kemenpar

ARAHDESTINASI.COM: Tim Crisis Center (TCC) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menerima laporan kasus hipotermia yang menimpa beberapa wisatawan minat khusus yang tengah melakukan pendakian di beberapa gunung favorit seperti Gunung Semeru dan Gunung Slamet, Jawa Tengah.

Karena itu, Kemenpar mengimbau wisatawan minat khusus terutama para pendaki untuk berhati-hati karena belakangan ini Indonesia dilanda cuaca ekstrem. Curah hujan yang tinggi ditambah angin kencang membuat suhu di permukaan yang lebih tinggi menjadi lebih dingin, termasuk di jalur pendakian, sehingga hipotermia menjadi salah satu hal yang bisa terjadi.

Hipotermia merupakan kondisi tubuh dimana suhu tubuh menurun sampai di bawah 37 derajat celcius yang menjadi suhu tubuh normal manusia. Selain hipotermia, jalur pendakian yang licin juga bisa menjadi salah satu tantangan saat melakukan pendakian di cuaca ekstrem.

"Kami mengimbau kepada para wisatawan minat khusus atau pendaki untuk berhati-hati dan lebih memperhatikan peraturan yang dikeluarkan pengelola sejumlah lokasi pendakian di Indonesia," ujar Guntur Sakti selaku Ketua Tim TCC.

Menurut Guntur, memperhatikan secara penuh arahan pengelola menjadi hal utama yang harus dilakukan wisatawan minat khusus. Selain itu juga melakukan persiapan yang baik dan matang sebelum melakukan pendakian, mulai dari logistik, peralatan dan perlengkapan mendaki. “Juga perhatikan karakter jalur dan trek jalur pendakian,” ujarnya.

Guntur memastikan hingga saat ini tidak ada wisatawan minat khusus yang mengalami kendala serius. Kemenpar melalui Tim TCC Kemenpar juga akan terus melakukan monitor lokasi-lokasi pendakian yang jadi favorit wisatawan. "Tentunya kami juga terus berkoordinasi dengan kementerian/lembaga dan pihak-pihak terkait lainnya untuk sama-sama memantau perkembangan jalur pendakian di Indonesia," ujarnya.

Dia menambahkan, sejumlah Balai Taman Nasional yang mengelola jalur pendakian di Indonesia juga sudah mengeluarkan edaran mulai dari waspada cuaca ekstrem ataupun penutupan terkait pemulihan ekosistem dengan tenggat waktu yang berbeda.  (*)

Editor : Aurora
KOMENTAR