ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Persaingan Pariwisata Antar-Negara Akan Semakin Keras

Kamis , 11 Oktober 2018 | 20:30
Persaingan Pariwisata Antar-Negara Akan Semakin Keras
Persaingan Pariwisata AntarNegara akan semakin keras. (Foto: Dok. Kemenpar)
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Tenaga Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Prof. I Gde Pitana memprediksikan prospek pariwisata Indonesia 2019 sangat cerah karena travel propensity di negara-negara sumber wisman tumbuh positif, sebagaimana angka proyeksi pertumbuhan wisatawan dunia menurut UNWTO.

Meski demikian, perilaku negara pesaing akan menciptakan persaingan yang semakin keras dalam merebut pasar pariwisata, sehingga menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia. “Saya sangat yakin dengan angka proyeksi UNWTO yang memprediksikan pertumbuhan pariwisata dunia pada 2010-2030 berkisar 3,3% setiap tahun, namun kenyataannya belakangan ini tumbuh di atas 6% atau double digit. Sementara untuk kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, mendapatkan sebagian besar kunjungan wisman dunia,” kata Prof. I Gde Pitana ketika menjadi keynote speaker dalam seminar Road to ITO (Indonesia Tourism Outlook) 2019 di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, baru-baru ini.

I Gde Pitana mengatakan, prospek cerah pariwisata 2019 yang diperlihatkan dengan travel propensity di masing-masing negara sumber pasar utama pariwisata Indonesia itu karena dipengaruhi oleh situasi makro dan mikro terkait pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara serta intermediary di antaranya terkait harga.

Sebagai contoh, pasar India dengan jumlah penduduk 1,3 miliar, memiliki outbound (orang yang berwisata ke luar negeri) sebanyak 13,2 juta, sedangkan China dengan total penduduk 1,5 miliar angka outbound-nya sebesar 117 juta. Kedua negara ini masing-masing mempunyai pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 6,8% dan 6,7%.

“Negara anggota ASEAN yang diapit oleh India dan China sebagai dua negara pasar pariwisata terbesar ini diperebutkan oleh negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. Ini menjadi tantangan terbesar bagaimana memperebutkan pasar tersebut,” kata I Gde Pitana, seraya mengatakan persaingan sangat ketat terutama dalam merebut wisatawan milinial dengan strategi promosi digital yang bergerak cepat.

Lima Kondisi Menjadi Perhatian
I Gde Pitana mengatakan, ada lima hal yang harus menjadi perhatian untuk meneropong pariwisata pada tahun depan, yakni kondisi pasar khususnya pasar utama (pertumbuhan ekonomi), kesiapan destinasi, kondisi sosial-ekonomi-politik Indonesia serta isu dan persepsi tentang terorisme dan perilaku negara pesaing. “Dari lima hal yang menjadi tantangan besar adalah perilaku negara pesaing,” katanya.

Pitana menggambarkan banyak negara berusaha menjadikan Indonesia sebagai pasar utama mereka di antaranya Selandia Baru yang memberikan insentif bagi pelaku bisnis pariwisata. Selain itu, ada Jepang yang mengembangkan wisata halal untuk merebut pasar Indonesia, sedang Vietnam membuat Bali Baru sebagai destinasi unggulan mereka dalam upaya memenangkan persaingan di kawasaan pasar ASEAN, khususnya dengan Indonesia.

Seminar sehari yang dihadiri sekitar 150 peserta dan dibuka oleh Sekretaris Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata I Kemenpar Edy Wardoyo menghadirkan narasumber dari kalangan industri pariwisata, pemerintah, dan akademisi yang tampil dalam dua sesi pembahasan. Sesi pertama menampilkan Dewi Kanyiasari, Kadisbudpar Kota Bandung dan Sekretaris Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata I Kemenpar Edy Wardoyo yang dimoderatori oleh Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti. (*)

Editor : Aurora
KOMENTAR