ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Ikut Kongkow di Kong Djie Coffee

Rabu , 21 November 2018 | 09:06
Ikut Kongkow di Kong Djie Coffee
Foto: Fatoer
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Bersosialisasi di warung kopi sudah menjadi kebiasaan masyarakat Belitung. Setiap hari, pagi dan terutama sepulang kerja, warung-warung kopi dipenuhi pelanggan. Mereka bertukar kisah, kabar, dan berdiskusi mengenai isu-isu terkini. Semua membaur, politikus, budayawan, pengusaha, pekerja kantoran, tanpa ada batasan status sosial.

Tidak mengherankan jika warung kopi di Belitung sejak dulu menjamur. Salah satu yang tertua adalah Kong Djie Coffee. Sudah ada sejak 1943 dan masih menggunakan cara-cara lama. Memasak air dengan kayu bakar plus cerek-cerek tinggi dalam berbagai tingkatan, khas Belitung.

Kong Djie Coffee didirikan warga keturunan Tionghoa bernama Ho Kong Djie. Kini, kedai kopi itu dipegang generasi kedua Ismed Holidi. “Dulu orang ngopi tidak mengenal jenis Robusta dan Arabica. Kopi semua telah di roasting. Jadi tidak menimbulkan perbedaan. Baru beberapa tahun belakangan saja orang mulai mengerti jenis dan varian kopi,” ungkap Ismed.

Hingga generasi kedua sampai saat ini tidak ada perubahan pada selera konsumen. Penjualan tertinggi ada pada kopi susu dan kopi O (Americano) atau kopi hitam. “Banyak hal dari zaman Ayah saya masih bertahan sampai sekarang. Dulu orang ngopi tidak mengenal jenis Robusta dan Arabica. Baru beberapa tahun belakangan saja orang mulai mengerti jenis dan varian kopi,” tuturnya.

Ismed berkisah, orang Indonesia punya kebiasaan minum kopi yang unik. Jika orang luar negeri cukup one – double shot espresso dalam sehari, maka di Indonesia kopi bisa diminum dari pagi, siang, sore, bahkan malam hari.

Hingga generasi kedua sampai saat ini, tutur Ismed, tidak ada perubahan pada selera konsumen. Penjualan tertinggi ada pada kopi susu dan kopi O (Americano) atau kopi hitam. “Banyak hal dari zaman Ayah saya masih bertahan sampai sekarang,” katanya.

Dari awal kedai berdiri, kisah Ismed, almarhum orangtuanya tidak pernah berpikir bahwa suatu ketika ngopi akan menjadi gaya hidup. Kedai kopi dijalankan apa adanya hanya untuk bertahan hidup, dan menjaga kualitas rasa. Tidak lebih. “Sekarang kedai kopi Kong Djie sangat bersyukur, sebab mampu memberikan penghidupan, dan gaya hidup bagi yang mencecap secangkir kopi.”

Ismed bersyukur, perkembangan dunia digital dengan adanya media sosial, menjadi media promosi yang dampaknya sangat terasa. Jika dulu, promosi hanya dilakukan dari mulut ke mulut oleh para konsumen, sekarang, banyak wisatawan atau tamu yang bertandang ke Belitung mampir ke Kong Djie Coffee karena melihat promosi tidak langsung dari media sosial.

Kedai Kopi Kong Djie berada di Simpang Siburik, Jalan Gegedek, Tanjung Pandan. Selain kopi, tersedia aneka camilan seperti pisang goreng berbalur cokelat maupun keju. Ada juga ubi goreng yang renyah dan gurih, dan masih banyak lagi sajian pelengkap kopi lainnya. (*)

Editor : Aurora
KOMENTAR