Selasa, 25 Juni 2024

3 Kuliner Legendaris Jakarta yang Mesti Dicoba


 3 Kuliner Legendaris Jakarta yang Mesti Dicoba Kedai Jamu Bukti Mentjos / Foto dok pribadi

JAKARTA punya banyak kuliner legendaris yang sampai sekarang masih terus diburu masyarakat dan wisatawan. Tak perduli tempatnya sederhana, masuk gang sempit, atau menempel trotoar, yang penting rasanya josss. Berikut 3 kuliner legendaris Jakarta yang unik dan mesti kamu coba.

1. Kedai Jamu Bukti MentjosKedainya sederhana saja, terletak di Jalan Salemba Tengah No 48, Jakarta Pusat. Kalau bingung, tanya saja pada tukang parkir atau pun penjual makanan di sekitar Salemba, pasti langsung diberitahu arah yang harus ditempuh.

Jamu Buktu Mentjos memang setenar itu. Pelanggannya datang dari beragam usia dan status sosial. Ada yang jalan kaki, naik bajaj, hingga mengendarai mobil meewah. Jamu di kedai itu dikenal manjur, tidak mengherankan jika banyak pengunjung yang membeli ramuan siap seduh untuk dibawa pulang.

Selian itu, banyak juga yang datang untuk minum di tempat, sembari berbincang santai, menikmati jajanan atau makanan jenis bubur, seperti bubur ketan hitam, kacang hijau, candil, biji salak, kolak, hingga bubur ayam. Mereka duduk santai di kursi kayu dengan tatanan toko yang menguarkan kesan kuno dan nyaman. Banyak peralatan dan toples-toples kuno yang masih digunakan untuk wadah jamu.

Jamu Bukti Mentjos sudah buka sejak 1940 di Solo, dan pada 1950, pemiliknya (keluarga Romuli) pindah ke Jakarta. Sampai saat ini, mereka masih menggunakan jasa pengumpul bahan jamu di Solo yang sudah sejak awal menjadi langganan keluarga. Namun, peramuan bahan jamu sudah dilakukan di Jakarta.

2. Kedai Kopi Tak KieJika sedang menelusuri kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta, jangan lupa menyempatkan diri mampir ke Kedai Kopi Tak Kie. Kedai yang sudah ada sejak 1927 itu benar-benar menguarkan suasana tempo dulu. Tempatnya sederhana, cukup luas, dengan meja dan kursi kayu, hiasan foto-foto tua dan kalender sobek.

Untuk mencapai Kedai Kopi Tak Kie, jangan segan bertanya. Jika tak hafal kawasan Pecinan, memang sedikit butuh perjuangan. Maklum, letaknya bukan di pinggir jalan, tapi di gang-gang sempit pasar.
Kedai Kopi Tak Kie, merupakan salah satu warung kopi tua yang kini dikelola Latif Yulus, generasi ketiga. Awalnya dagangan utama kedai itu bukan kopi, tetapi teh. Tapi ternyata pelanggan lebih sukai kopi, hingga akhirnya lebih dikenal dengan sebutan kedai kopi. Sampai sekarang, pelanggan kedai tersebut masih ramai, mulai dari generasi tua, anak muda, hingga wisatawan. Semuanya berbaur, saling mengobrol dan bertukar cerita.

Selain kopi, tersedia pula berbagai menu seperti nasi hainam, nasi tim, suikiaw, dsb. Kedai Kopi Tak Kie buka pagi-pagi sekali, bersamaan dengan geliat kehidupan di Pecinan. Jangan datang lewat dari jam dua siang, karena pasti akan kecewa. Kedai itu hanya buka hingga pukul 14.00.

3. Nasi Ulam MisdjayaTak jauh dari Pecinan Glodok ada Klenteng Toa Se Bio, tepatnya di Jalan Kemenangan III. Sore hari, sebagian halaman klenteng berubah fungsi menjadi tempat makan nasi ulam. Penjualnya menggunakan gerobak dan datang pada sore hari pukul 16.00. Pelanggannya dari beragam kalangan, mulai dari orang Betawi asli hingga keturunan Tiong Hoa.

Nasi Ulam Misdjaya mencerminkan harmonisasi akulturasi kuliner masyarakat lokal dan keturunan Tionghoa. Konon, nasi ulam Betawi yang asli disajikan kering. Namun kemudian muncul nasi ulam basah hasil alkulturasi kuliner dengan masyarakat Tionghoa. Di Misdjaya, seporsi nasi ulam komplet disajikan dengan lauk dendeng, telur dadar atau rebus, tempe/tahu, potongan cumi, perkedel, dan bihun goreng. Kemudian disiram kuah semur dengan taburan daun kemangi, potongan timun, bumbu kacang, bawang goreng, emping, dan kerupuk.

Nasi Ulam Misdjaya sudah ada sejak 1964. Keunikannya bukan hanya pada rasa, tetapi juga lokasi berjualan yang seperti oase, mencerminkan toleransi dan kerukunan bermasyarakat. Terletak di Jalan Kemenangan III, tepat di halaman depan Klenteng tua Toa Se Bio. Gerobak ada di bawah papan nama Toa Se Bio di pinggir jalan, sedangkan tempat makan berupa meja dan kursi plastik persis di halaman vihara atau klenteng. (*)

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kuliner Terbaru