ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Cara Murah ke Jepang

Minggu , 11 Maret 2018 | 18:32
Cara Murah ke Jepang
Festival khas Jepang berlatar Tokyo Tower/dok: Lintang Rowe
POPULER

SIAPA bilang ke Jepang itu mahal? Kalau direncanakan dengan baik, harganya bisa jauh lebih murah dibandingkan harus ikut paket wisata. Paling tidak, itu yang saya rasakan ketika pergi ke Jepang dengan tiga teman. Semuanya ibu-ibu dan belum ada satu pun yang pernah menginjakkan kaki di negeri para samurai itu.

Setelah bincang-bincang, kami memutuskan menikmati Jepang selama 12 hari 11 malam. (dua malam di pesawat) Teman saya bilang, “Wow mau habis berapa duit?” Pikiran yang sama juga terlintas di benak kita. Tapi akhirnya nekat membuat perencanaan terlebih dahulu.

Membeli Tiket
Berbekal browsing, kita akhirnya memutuskan berangkat 12 April. Pertimbangan pertama, Maret hingga awal April, harga tiket mahal karena orang mengejar sakura. Begitu juga dengan awal Mei, harga tiket membumbung. Pertimbangan kedua, masih bisa menikmati sisa-sisa sakura yang bermekaran dan udara sudah tidak begitu dingin, sehingga barang bawaan tidak perlu menggelembung.

Kemudian, kami mulai memilih rute. Setelah susun-menyusun itenerary, diputuskan dari Jakarta mendarat di Tokyo, dan pulang dari Osaka. Tapi ternyata harga tiket pulang pergi beda kota jauh lebih mahal. Bedanya sekitar Rp1,8 juta. Tapi akhirnya kita tetap memutuskan pp beda kota, dengan pertimbangan membawa-bawa koper agak merepotkan. Kami memperoleh harga tiket Jakarta - Tokyo dan Osaka - Jakarta Rp7 juta/orang.

Menginap Dimana?
Hotel? jelas sudah dicoret. Kita memilih Airbnb, dan dapat harga untuk tiga orang Rp600 ribu. Tempatnya asyik, tidak jauh dari stasiun kereta (ini sebaiknya jadi salah satu pertimbangan utama), dan yang jelas ada mesin cuci dan dapur. Dua fasilitas itu sangat membantu.

Mematangkan Itenerary
Ini langkah yang penting, karena berpengaruh pada keputusan perlukah membeli JR Pass. Sebagai informasi awal, JR Pass sangat berguna untuk menghemat perjalanan antarprovinsi, termasuk dengan kereta cepat shinkasen. JR Pass biasanya dijual untuk rentang waktu penggunaan satu minggu dan 2 minggu. Harga untuk satu minggu Rp3,6 juta (tergantung nilai tukar yen saat membeli).

Perlukah JR Pass?
Langkah ketiga, mulai menghitung apakah perlu membeli JR Pass. Pertanyaan ini kerap muncul, ketika orang akan melakukan perjalanan wisata ke Jepang. Maklum, jika digunakan maksimal, JR Pass memang bisa memangkas biaya transportasi kereta api dibandingkan dengan membeli karcis secara eceran. Namun, jangan lantas langsung membeli JR Pass. Buat dulu itenerary, hitung berapa besar biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Jika lebih dari Rp3,6 juta, maka saatnya membeli JR Pass.
Pertanyaannya, bagaimana cara menghitung pengeluaran transportasi dengan karcis eceran? Banyak situs yang menawarkan kemudahan terkait transportasi kereta api di Jepang. Di antaranya hyperdia.com. Lihat itenerary yang sudah dibuat, masukan kota atau daerah-daerah di Jepang yang akan Anda tuju. Dari situ akan muncul harga tiket kereta api. Hitunglah total pengeluaran transportasi jalur JR, jika angkanya lebih dari Rp3,6 juta, maka saatnya Anda memertimbangkan membeli JR Pass.
Kami memutuskan membeli JR Pass untuk waktu 7 hari dengan pertimbangan perpindahan dari satu perfektur (semacam propinsi) ke perfektur lain dimulai pada hari ke-enam. O iya, kalau mau harga JR Pass lebih murah lagi, rajin-rajin browsing, seorang teman mendapat harga diskon, hanya mebayar Rp2 juta untuk 7 hari.

Tiket kereta lokal
Di Tokyo, tidak semua jalur kereta dicover oleh JR Pass. Transportasi kereta api di Jepang dioperasikan oleh beberapa operator dan masing-masing punya jalur sendiri yang saling terhubung. Karena itu, selain JR Pass, Anda tetap harus mengeluarkan uang untuk jalur-jalur kereta di luar operator JR Pass. Di setiap kota ada beberapa ticket pass yang bisa digunakan dan cara kerjanya mirip tiket busway atau komuter line. Di Tokyo misalnya, ada kartu tiket Posmo dan Suica. Bisa dibeli disetiap stasiun dan bisa diisi ulang. Bisa diuangkan kembali jika tersisa, dan bisa digunakan kembali kapan pun sampai rentang waktu 10 tahun. Kami membeli Suica dan mengisi ulang jika diperlukan. Kira-kira setiap orang habis sekitar 500 ribu.

Perlukah Sewa Wifi
Perlu! Kecuali Anda menggunakan fasilitas dari operator telepon di Indonesia. Jika tidak, maka sewa wifi akan sangat membantu, tertutama ketika harus menggunakan aplikasi terkait kereta api dan Google Map. Selain itu, harganya juga jadi jauh lebih murah.
Pertanyaannya sekarang, apakah sebaiknya sewa dari Indonesia atau ketika tiba di bandara? Kedua-duanya bisa dilakukan.Apa yang harus diperhatikan? Sudah tentu perbandingan harga dari operator penyewaan wifi. Biasanya mereka menghitung sewa harian. Pelajari dulu hak dan kewajiban Anda. Hati-hati karena ada penyewaan yang hanya memberi 3 GB meski Anda ditarik biaya sewa harian. Setelah itu kecepatan menurun sehingga bisa membuat frustasi.
Cara lain, tanyakan ke hotel mau pun tempat Anda menginap, apakah mereka menyewakan wifi? Jika ya, tanyakan kembali hak dan kewajiban yang akan diperoleh. Biasanya, jika Anda menginap menggunakan aplikasi Airbnb, pemiliknya juga menyewakan router wifi. Harganya jauh lebih murah. Sebagai perbandingan, rata-rata operator penyewaan wifi mengenakan biaya 900 yen (Rp111.000)/hari. Di penyewaan mandiri rata-rata mematok 400 yen atau Rp46.000/hari dengan kecepatan yang diperhitungkan setiap hari dan tetap bisa sharing jaringan. Intinya, wifi sangat diperlukan, jadi kami memilih menyewa harian.

Bagaimana dengan makan?
Nah, rata-rata makan di Jepang memang mahal. Tapi banyak kok tempat makan yang murah, terutama ketika datang ke Pasar Tsukiji. Beli dua porsi mi untuk tiga orang saja sudah kenyang. Rata-rata kami membeli bento di mini market, harganya mulai dari Rp60 ribu. Yoshinoya di Jepang juga jadi pilihan, sekitar Rp80 ribu perporsi. Selebihnya, kami memasak sendiri makanan sederhana (mi jepang, telur, tumis sayuran) dan mengkonsumsi bekal (maklum emak-emak, bawa telur asin, abon, dll). Makanan memang salah satu yang kami korbankan untuk mengepres harga. Tapi kami tetap bisa puas mencicipi street food Jepang loh. Jika dihitung-hitung, dalam satu hari, rata-rata kami menghabiskan dana sekitar Rp124 ribu untuk makan.

Bayar Objek Wisata
Nah yang satu ini tidak bisa dihindari. Untuk objek wisata seperti ke Hakone, kami tidak sayang mengeluarkan uang. Tapi kami memutuskan tidak naik ke Tokyo Tower, cukup menikmati suasana dan berpotret di bawahnya saja. Apalagi saat datang, kebetulan sedang ada festival.

Berapa Total Pengeluaran?
Jika semua kebutuhan itu dihitung, total 14.100.000. Sisanya hingga Rp16 juta untuk kebutuhan membayar tiket seperti Hakone pass sekitar Rp450 ribu (dihitung dengan kurs 1 yen 113 atau 114)

Garis Besar Itenerary
1. Kami menginap 6 hari di Tokyo: Tiga hari berkeliling Tokyo, satu hari ke Hakone, 1 hari ke Kawagoe, dan 1 hari lagi ke Nikko. Tiga daerah terakhir berbeda wilayah dengan Tokyo, tapi masih bisa ditempuh pulang pergi.
2. Tiga hari kami habiskan di Kyoto
3. Dua Hari di Osaka (*)

 

Kontributor
Lintang Rowe: Penikmat traveling/travel writer.
Follow IG: @lintangrowe

 

Editor : Farida
KOMENTAR