ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Surga Dunia di Sumba Sunset

Sabtu , 29 September 2018 | 08:54
Surga Dunia di Sumba Sunset
Pemandangan dari Sumba Sunset /Foto: arahdestinasi.com
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Dengan inovasi, keterbatasan fasilitas terbukti bisa menjadi salah satu tempat berlibur yang justru menyenangkan. Itulah yang bisa dirasakan saat datang ke Kabupaten Sumba Barat dan menginap di homestay Sumba Sunset.

Sumba Sunset rerletak di Desa Patilaya Bawa, Kecamatan Lamboya, sekitar dua jam dari Bandara Tambolaka yang ada di kabupaten tetangganya, Sumba Barat Daya. Homestay milik Petrus itu terletak di ketinggian, dengan pemandangan di bawahnya perkebunan, jalan raya, dan bentangan laut luas. Dari homestay hanya sekitar 10 menit berjalan kaki jika ingin bermain di bibir pantai dengan pasir dan ombak yang cantik.

Sumba Sunset memiliki empat rumah kecil beratap rumbia yang langsung menghadap ke hamparan pemandangan laut dan perkebunan. Dua kamar dilengkapi dengan dua tempat tidur, satu kamar satu tempat tidur, dan satu lagi tiga tempat tidur. Harganya dihitung perkepala Rp400 ribu termasuk tiga kali makan.

Setiap bulan menurut Petrus selalu saja ada tamu yang datang. Namun, katanya, bulan teramai biasanya dimulai dari Juli hingga awal tahun. Turis asing yang datang biasanya dari Eropa, dan belakangan mulai muncul wisatawan dari Australia.

Di Sumba Sunset, setiap hari bisa menjadi waktu yang menyenangkan. Pagi hingga sore hari, wisatawan bisa mengunjungi dan melakukan beragam aktivitas. Melihat air terjun, datang ke kampung adat, bermain di pantai, berselancar, menyelam, dan masih banyak lagi. Petrus selalu siap mengantar sesuai kebutuhan wisatawan. Di malam hari, cobalah duduk bercengkrama di bangunan terbuka beratap rumbia, memandang bulan, mendengar deburan ombak, dan menyesap kopi sembari berbincang santai.

Belum ada aliran listrik yang masuk ke desa itu. Petrus menggunakan genset yang mulai dinyalakan saat langit mulai gelap dan dimatikan setiap pukul 12 malam. Sebagai ganti, setiap kamar diberi satu penerangan yang menggunakan baterai. Tapi siapa sangka, kekurangan itu justru disukai wisatawan, khususnya turis asing. “Mereka malah suka tidak ada listrik. Mereka bilang bosan, di tempatnya setiap hari ada listrik dimana-mana,” kisah Petrus.

Desa Patilaya Bawa juga masih kesulitan air. Untuk memenuhi kebutuhan mandi wisatawan, Petrus membeli air yang dihitung pertangki (5.000 liter) dengan harga Rp200 ribu. Petrus berharap, ke depan ada fasilitas air yang bisa didapat di desanya. (*)

 

Editor : Aurora
KOMENTAR